Wednesday, January 07, 2009

Company culture

“Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS An-Nahl [16]: 25)

Berikut ini adalah pengalaman Ari Ginanjar Agustian yang dituliskan di buku ESQ Power.

PT Matsushita Kotobuki Elektronik Indonesia adalah salah satu anak perusahaan Matsushita yang bermarkas besar di Jepang. Salah satu produknya adalah barang-barang elektrinik dengan merk Panasonic

Group Matsushita beroperasi di seluruh dunia dan bergerak di segala bidang. Secara kebetulan saya pernah menangani fasilitas pelayanan jasa kesehatan 6000 karyawannya selama dua tahun. Bagi perusahaan yang saya tangani, ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat besar, menangani anak perusahaan rakasasa internasional yang tersohor itu. Sekaligus bagi saya pribadi, adalah sebuah kesempatan belajar.

Pertama kali saya datang ke sana, saya kaget luarbiasa ketika memasuki toilet pada sebuah lobby perusahaan tersebut. Betapa tidak? Kebersihannya seperti hotel berbintang! Padahal saya tahu, umumnya mereka adalah pekerja-pekerja pabrik. Setelah itu saya melakukan meeting dengan beberapa staf mereka yang umumnya dari serikat pekerja. Setelah selesai, saya langsung keluar ruangan, mendahului mereka. Beberapa langkah berjalan, saya menoleh ke belakang dan saya melihat mereka sedang merapikan kembali kursi-kursi seperti pada saat awal meeting.

Dua kejadian yang nampaknya kecil itu sangat menggelitik rasa ingin tahu saya. Kemudian saya bertanya pada Ismet Gobel, salah seorang direktur sumber daya manusia PT. Matsushita, “Apa kiat-kiat Anda memimpin 6000 karyawan yang umumnya pekerja-pekerja pabrik itu menjadi begitu disiplin?”. Dengan enteng ia menjawab, “Dalam Grup Matsushita perusahaan dibagi menjadi tiga kelas. Kelas yang terendah adalah kelas tiga, yaitu apabila karyawan di pabrik ada ada yang membuang sampah dan tidak ada yang memungutnya. Perusahaan kelas dua, apabila ada karyawan yang membuang sampah tetapi ada karyawan lain yang memungutnya. Sedangkan perusahaan dikatakan perusahaan kelas satu, apabila tidak ada karyawan yang membuang sampah tidak pada tempatnya”.

Saya kemudian bertanya lagi, “Mengapa mereka senantiasa merapikan kembali kursi setelah rapat, bukankah ada petugas khusus yang akan membersihkan ruangan rapat itu?” Ismet Gobel menjawab “Dalam budaya Jepang, kita harus memikirkan orang lain yang akan menggunakan ruangan rapat itu, kita harus senantiasa memberi dan menolong.”

Di perusahaan Matsushita, misi utama bisnisnya bukan terletak pada uang. “Life is not only of bread”, hidup bukan sekedar untuk sekerat roti.

Note: Silahkan baca kisah inspiratif lainnya dari buku ESQ Power.
Ari Ginanjar Agustian. 2003. ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan. Penerbit: Arga

http://www.esq.co.id


Langkah Awal Memulai Bisnis (bagian 2)

6. Memulai dari yang kecil dan sederhana
Seperti kata-kata terkenal Jack Welch dari GE, “Manage less is manage better”. Semakin kecil seharusnya pengelolaannya semakin mudah, dengan cara ini kecepatan kita mengubah strategi bisnis akan sangat baik.

7. Bergabung dengan komunitas bisnis
Selalu ada kesempatan dalam setiap persaingan. Kita bisa melihat bahwa para pengusaha pun memiliki asosiasi dan perkumpulan masing-masing.

8. Fokus dan konsisten
Donald Trump dalam salah satu bukunya menerangkan pelajaran berharga yang dia dapatkan karena tidak menjaga fokus bisnisnya. Sekitar akhir tahun 1980-an Donald Trump dikritik media massa Amerka Serikat dan memiliki hutang 9,2 Milyar US Dollar. Akhirnya dia bisa bangkit kembali.

Banyak perusahaan yang tidak bisa menjaga fokus bisnisnya justru malah menjadi tenggelam. Godaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar memang cukup sulit diatasi. Rumput tetangga memang kelihatan lebih hijau daripada rumput di halaman kita. Ada juga yang mengatakan, “Kalau tidak fokus dalam bisnis tidak akan jadi apa-apa”.


9. Action
Ada pendapat bahwa untuk menjalankan bisnis harus dengan perhitungan matang, ada juga yang berpendapat jangan terlalu banyak mikir jalanin aja dulu nanti di jalan akan ketemu jalan.

Sebenarnya dua pendapat itu benar, harus dengan perhitungan tapi jangan sampai perhitungan tidak membuahkan tindakan. Sambil berjalan pun Insya Allah akan ketemu jalan, selama kita mau fokus, belajar dan terus berkembang, akan ketemu jalan.

O.K.. Sekian dulu, semoga bermanfaat.

Syamsul Hadi
Http://paddyworld.blogspot.com

Langkah Awal Memulai Bisnis (bagian 1)

Memiliki sebuah bisnis sendiri bisa sangat menyenangkan dan menegangkan karena adanya harapan pendapatan yang tidak terbatas oleh gaji bulanan sampai risiko hutang dan gagal yang sebenarnya bisa menjadi pemicu diri untuk sukses.

Berikut ini adalah garis-besar langkah awal memulai bisnis. Rincian setiap poin di bawah ini Insya Allah akan ditulis kesempatan berikutnya.

1. Niat
Mulailah dengan niat yang baik, seperti niat ingin membantu orang lain. Dengan cara ini Allah SWT akan membantu setiap langkah kita membesarkan bisnis. Jika kita perhatikan, perusahaan-perusahaan yang sukses dan bertahan lama adalah perusahaan yang produk atau jasanya membantu kehidupan manusia.

Memulai dengan niat untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya adalah satu hal yang salah karena hal itu adalah bentuk keserakahan. Krisis finansial yang sering melanda di Amerika Serikat seringkali karena banyak yang memandang bahwa keserakahan adalah suatu hal yang bagus. Memandang bahwa mengurangi pegawai untuk meningkatkan keuntungan adalah suatu kebijakan yang membahagiakan pemegang saham. Tetapi hasilnya adalah berbagai krisis yang menimpa.


2. Buat rencana bisnis
Tuliskan di selembar kertas atau di file komputer. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada diri sendiri:
a) Apakah bisnis yang akan dijalankan?
b) Apa keunikan bisnis kita dibandingkan dengan bisnis lain yang serupa?
c) Bagaimana cara mengatasi persaingan?
d) Apa nama perusahaan, nama produk dan nama jasa yang akan digunakan?
e) Siapa saja yang akan membantu mengelola bisnis kita?
f) Apakah ada bantuan pendanaan dari bank atau orang lain?

3. Buat rencana pengelolaan keuangan
Idealnya untuk rencana keuangan, kita meminta bantuan seorang akuntan. Hal ini terutama untuk meminta nasihat mengenai pajak. Tapi jika belum mendapatkan bantuan, sebaiknya cari tips tentang keuangan dan pajak di internet, surat kabar, majalah atau buku.

Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis. Ada istilah, uang itu ga ada saudaranya. Kesalahan ini banyak terjadi ketika uang milik perusahaan malah terpakai untuk berbelanja keperluan pribadi, hasil yang terjadi kemudian adalah masalah.

4. Siapkan kantor untuk bisnis Anda
Kantor tidak selalu berada di luar rumah, jika ingin memulai bisnis dari dalam rumah pun itu sah-sah saja, tetapi resikonya adalah kehidupan rumah dan kehidupan kerja akan tercampur.

Seringkali pertimbangan seseorang memiliki kantor di dalam rumah adalah karena masalah biaya sewa dan operasional yang belum memadai.
Jika memang ingin mengembangkan lebih besar, maka suatu saat harus mencari lokasi untuk kantor.


5. Buatlah sistem pendataan yang baik
Pendataan yang baik akan memudahkan kita memprediksi arah situasi lingkungan kita, hal ini penting karena jika prediksi kita benar maka kita bisa tahu kapan kita harus melakukan inovasi-inovasi produk.

Pastikan untuk selalu menyimpan segala transaksi dengan klien dalam bentuk arsip fisik (hardcopy) termasuk proposal, kontrak, invoice, jadwal kerja dan janji yang Anda anggap berkaitan dengan proyek tersebut. Ini juga termasuk pencatatan keuangan, bank statement.

Ketika menandatangani kontrak dengan klien, pastikan Anda mendapatkan salinannya dengan dua tanda tangan. Jangan melakukan kerja apapun tanpa kontrak yang jelas, karena secara hukum, Anda akan melaamai kesulitan untuk menagih pembayaran klien jika tidak ada bukti hitam di atas putih.

Thursday, January 01, 2009

Dihampiri kekayaan

Ada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang berbunyi :

"Barang siapa yang akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup didalam hatinya serta mempersatukan (mempermudah –pentj.) urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya, Allah akan menjadikan kefakiran berada didepan matanya serta mencerai beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar apa yang telah ditetapkan baginya".

Checklist sederhana berikut dapat menjadi peta untuk mengetahui dimana diri kita berada saat ini :

1. Apakah hati kita sudah merasa berkecukupan dengan segala yang ada, meskipun tidak berarti kita harus ‘kaya’ ?

2. Apakah segala urusan-urusan kita terasa mudah atau dimudahkanNya ?

3. Apakah ‘dunia’ mendatangi kita dengan patuh dan hina ?

Beruntunglah kita kalau dengan mantab kita bisa menjawab Ya untuk ketiga pertanyaan tersebut diatas, artinya bisa jadi kita sudah termasuk orang golongan pertama – yaitu yang menjadikan akhirat tujuannya.

Ironinya, ketika kita menjadikan ‘dunia’ sebagai harapan kita justru kefakiran yang ada di depan mata kita (meskipun bisa jadi kita ‘kaya’). Segala urusan menjadi rumit, hal-hal kecil menjadi masalah besar. Dunia yang kita kejar dengan susah payahpun, tidak kita dapatkan kecuali apa yang sudah ditentukanNya.

Saya sangat tertarik dengan kalimat, kecuali apa yang sudah ditentukanNya. Mungkin artinya adalah tidak ada lagi tambahan untuk orang yang mengejar dunia. Hanya segitu saja... Uang mungkin banyak (financial wealth), tapi kekayaan harmonis lainnya tidak ada.

Selain di hadits shahih tersebut di atas, Allah SWT juga menjanjikan langsung hal ini yang antara lain dapat kita temukan di beberapa ayat berikut :

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik”. (QS 17 : 18-19)

“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS 61 : 12-13)

Wednesday, December 31, 2008

Silaturahmi untuk memperluas rezeki

“Barang siapa yang ingin rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan, maka peliharalah hubungan silaturahmi.”
(Hadist Rasulullah Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi adalah bagian dari social wealth (kekayaan sosial). Jika kita perhatikan, wirausahawan yang hebat memiliki hubungan yang baik dengan sebagian besar orang. Hubungan baik dengan pelanggan, supplier, sampai hubungan baik dengan karyawannya.


Robert T. Kiyosaki Penulis Buku Laris The New York Times #1, Rich Dad Poor Dad &
Seri Buku Rich Dad bercerita bahwa Ayah kaya beliau berkata,
"Orang-orang terkaya di dunia mencari dan membangun jaringan, orang-orang lain mencari pekerjaan."-

Membuka Pintu Rizki

Kebanyakan orang mengatakan rezeki (kekayaan) adalah uang, penghasilan yang besar, bahan makanan yang makmur, rumah megah dan lain sebagainya. Akan tetapi ada beberapa pengertian lain yang berbeda mengenai rezeki.

Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya'rawi menyatakan bahwa "Rezeki adalah apa yang dapat dimanfaatkan oleh pemiliknya." Jadi rezeki itu adalah segala sesuatu yang dipakai, segala sesuatu yang dimakan dan segala sesuatu yang bisa dinikmati.

Suatu saat saya menonton OPRAH, kebetulan sedang di bagian mengenai kekayaan. Di situ ada seorang pembicara yang menyatakan bahwa kekayaan itu tidaklah hanya dilihat dari sisi finansial, tapi juga dari sisi spiritual, fisik, sosial, dan sisi intelektual. Kelima hal tersebut yang dinamakan sebagai kekayaan yang harmonis (harmonic wealth). Banyak orang kaya secara finansial tapi tetap merasa kosong, hal ini karena orang kaya tersebut hanya mendapatkan satu elemen saja dari lima elemen tersebut.






“..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (Q.S. Ar-Ra’d: Ayat 11)
Tuesday, December 23, 2008

KIAT MENGELOLA USAHA KECIL

Sekecil apapun usaha kamu, selama kamu terus berusaha maka kamu adalah seorang pengusaha. Mungkin sekarang kecil, tapi selama kuat bertahan, insya Allah … suatu saat nanti akan menjadi besar. Berikut ini adalah tips yang mudah-mudahan bisa membantu bertahan dan berkembang menjadi besar.

1. Kreatif
Tidak terpaku pada suatu jenis model . Cari model lain yang bisa memikat konsumen. Jika memang diperlukan, gabung dengan orang lain atau perusahaan lain untuk membuat model baru yang belum pernah dilihat orang-orang di pasar.
“Seorang yang bijaksana akan membuat lebih banyak peluang daripada menemukannya”


2. Produktif
Bekerja secara optimal sesuai kemampuan. Berapa banyak yang bisa kita hasilkan hari ini? Berapa banyak orang yang tertolong karena usaha kita hari ini? Apakah lebih banyak daripada minggu lalu?
“Orang yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik daripada kemarin”


3. Menjalin relasi
Sering-sering silaturahim, bergabung dengan organisasi atau asosiasi pengusaha. Biarin kecil, tapi kan tetep pengusaha. Jangan mengecilkan diri sendiri.
Bukankah ada hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya sering silaturahim”.


4. Menjaga kualitas produk
Kualitas produk akan mendatangkan kepercayaan. Kualitas baik akan mendatangkan kepercayaan baik, kualitas buruk sebaliknya. Lebih baik untung besar tapi berkelanjutan daripada untung besar tapi besok bangkrut karena ga ada yang beli lagi.


5. Tawakal
Berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. Meminta petunjuk dan jalan terbaik dari Allah SWT dalam usaha yang kita jalankan.


Mudah-mudahan tips singkat ini bermanfaat, kalau tuisannya banyak ga akan disebut tips, tapi buku… iya kan?. Harapannya sih ga cuma dibaca dan dikoleksi tapi juga diprint, dipajang dikamar, dikerjakan dan diberitahukan ke orang lain supaya menjadi bermanfaat. Good luck!